Politik

Mi6 Prediksikan Pileg 2024 Akan Diwarnai Fenomena Migrasi Politisi Antar Parpol

MATARAM-Lembaga Kajian Sosial Politik Mi6 memprediksikan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 di NTB akan diwarnai fenomena migrasi dan exodus politisi antar partai politik.

Para politisi akan memilih pindah ke partai lain yang dianggap lebih menjanjikan secara karier politik, ekonomi, dan tawaran privilege lainnya.

Tawaran aneka konsesi politik ini tentu menggiurkan bagi politisi yang memiliki ketokohan kuat guna memuluskan ekspektasi karier politiknya.

Apalagi hampir dua tahun ini kondisi perekonomian masyarakat berantakan dihantam badai pandemi covid 19. Tentu hal ini juga  berpengaruh pula terhadap kondisi cash-flow para politisi  dalam mengatur keperluan biaya politiknya.

“Sehingga munculnya tawaran insentif politik elektoral dari partai untuk menggaet politisi yg memiliki kantong suara maupun rekam jejak yang jelas pada pileg 2024 akan marak dan massive,” kata Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH melalui siaran persnya, Rabu (6/4/2022).

Selanjutnya pria yang familiar disapa Didu ini mengatakan dengan munculnya partai baru dengan mengusung berbagai jargon politik untuk menarik simpati rakyat, maka hal tersebut menjadi peluang dan harapan bagi politisi dalam menentukan afiliasi maupun karier politiknya.

“Belajar dari pileg sebelumnya, tentu dalam Pileg 2024 nanti, parpol lama maupun baru (non parlementer) ingin memperoleh suara elektoral terbanyak,” kata Didu.

Disinilah letak pentingnya selain mesin partai, yakni keberadaan figur dan performance calon anggota legistlatif yang diusung akan menentukan perolehan suara partai. Tak kalah pentingnya  juga topangan  logistik politik untuk mengakselerasikan gerakan politik, lanjutnya.

Berebut Pengaruh Tokoh dan Vote Getter

Selain itu, Didu juga menengarai dalam Pileg 2024 mendatang akan terjadi  pertarungan antar parpol berebut pengaruh  dalam  menggaet figur atau tokoh  guna menopang perolehan suara partai baik sebagai caleg ataupun vote getter.

“Contohnya fenomena TGB merapat dan diberikan kehormatan/ privilege oleh Partai Perindo. Apapun dalihnya, keberadaan TGB sebagai Vote Getter di Perindo hari ini harus dimaknai sebagai bentuk ajakan dan dukungan untuk partai besutan Hary Tanoe ini,” kata Didu.

Langkah politik instan Perindo mengajak TGB dalam gerbongnya tidak bisa pula ditafsirkan bebas nilai. Pasti ada agenda lain, yang utama pasti dampak perolehan suara Perindo akibat TGB Effect tersebut.

“Perindo tentu sudah mengkalkulasi elektoral effectnya ketika mengajak TGB dalam satu barisan. Kedepan bisa jadi banyak figur/tokoh yang bergabung dengan Perindo,” kata pria yang dikenal sebagai aktivis ini.

Didu juga menambahkan, Desember 2021 lalu misalnya, ada peristiwa penting bagaimana tokoh-tokoh utama NW Anjani menyatakan diri  bergabung dengan Partai Gerindra.

Tentu Partai Gerindra menyambut  dengan tangan terbuka dukungan NW karena  ujung-ujungnya tentu agar suara Elektoral Gerindra bertambah secara signifikan.

“Apapun argumentasinya setiap rangkaian peristiwa politik tak terlepas ada transaksi politik yang  adil sebagai bentuk simbiosis mutualisme,” imbuh lelaki yang mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB.

Rivalitas Kader Organik vs Diaspora Politik

Membaiknya tingkat kepercayaan publik di NTB terkait Pemilu  akan berimplikasi terhadap partisipasi politik masyarakat dalam setiap gelaran pemilihan.

” Untuk diketahui partisipasi pemilih di NTB naik secara signifikan. Pada Pemilu 2014 partisipasi pemilih 77 persen. Sementara Pemilu 2019 tingkat partisipasi pemilih 82 persen. Melebihi target secara nasional yakni 77,5 persen,” urai Didu.

Didu mengulas dengan anatomi pemilih di NTB yang cenderung fiendly politic  mengindikasi pula pendidikan kewarganegaraan (civic education) yang dilakukan oleh kalangan stakeholder berlangsung dengan baik.

Publik NTB secara keseluruhan tidak bisa lagi dikatakan apolitis atau buta politik.

“Dengan kontruksi partisipasi politik yang tinggi dan ceruk pemilih yang meningkat, Mi6 menduga pada gelaran Pemilu 2024 akan terjadi rivalitas yang kuat antara kader organik partai vs kalangan diaspora politik,” lanjutnya.

Keberadaan para diaspora politik yang awalnya bukan kader organik partai menarik  diamati kecendrungannya dalam Pemilu 2024 baik sebagai caleg maupun vote getter.

Apalagi dengan maraknya bertambahnya partai baru peserta Pemilu 2024. Tentu kalangan ini akan berebut ceruk pemilih di NTB dengan berbagai strategi.

“Maka tak heran dalam Pemilu 2024 mendatang , susunan caleg partai ataupun vote getter akan diwarnai oleh figur/ tokoh yang baru berafiliasi untuk menambah perolehan suara rakyat,” ujarnya.

Didu menambahkan kehadiran kalangan diaspora, selain kader organik partai bisa menimbulkan problem atau dilema di internal jika hal tersebut tidak selesai di awal atau dibuatkan pakta integritas.

“Kerentanan utama anggota partai yang bukan berasal kader organik/ideologis partai kerap bersumber pada kesetiaan dalam menjaga stamina berpartai,” pungkas Didu.

Didu juga mengingatkan proses internalisasi ideologi harus tetap ditanamkan kepada setiap kader partai agar tertanam sikap setia dan berani membela marwah partai. (red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button