Kengerian Gempa yang Tak Hilang

Lombok Utara,GARISDEPAN-Kisah perjalanan Gowes HBK kembali berlanjut. Cerita menarik kembali disuguhkan Wing Sentot Irawan pada ajang kayuh sepeda yang dihelat Haji Bambang Kristiono, SE (HBK). Berikut ini catatannya.


Dengan penuh semangat kukayuh sepedaku menuju tempat yang kuanggap bisa mengobati rasa hausku memahami marwah masyarakatku. Usai gempa membuat kesadaran pasar dan daya hidup lesu. Sepanjang Senggigi – Nipah menuju Malaka dan Teluk Nara. Banyak sekali rumah ambruk. Ada niat membidik dengan kamera? Bagaimana kalau kusodorkan kartu nama HBK?
Kira – kira apa keinginan paling mungkin bisa kutangkap dari suara hati nuraninya? Apakah mereka perlu tenda, logistik mungkin atau uang untuk kebutuhan sehar – hari?.


Tampaknya di atas kayuhan sepeda dengan bendera Gerindra berkibar mendekatinya dengan pola itu kurang dewasa. Kutangkap ada jarak dari kesadaran politik yang tidak tuntas dalam mengelola kedaulatan berdemokrasi itu selama ini. Orang melihat penampakanku asing, tapi juga tak penting. Jadi apa yang dipentingkan dari kehadiran seorang pemimpin diantara kesadaran politik di tahun politik di Indonesia?


“Banyak yg ndak sanggup cerita, Mas!,”
ujar masyarakat saat kutanya peristiwa gempa 2018 itu.
“Bagaimana dengan masyarakat 3 Gili,?” tanyaku.
“Ya, gitu. Cuma banyak yg kemudian mengambil hikmah dari gempa bahwa mungkin itu peringatan buat kita untuk kembali memperbaiki hubungan kekeluargaan yang selama ini berubah oleh industri pariwisata,” ungkapnya.


“Kami semua disini satu keluarga, Mas! Tapi sejak gempa kesadaran kolektif kultural kami jadi lebih baik!,” sambungnya.


Syukurlah ujar hati kecilku. Ada setitik harapan dan kesadaran adi kodrati pada bentuk kasih sayang Allah itu. Bukan apa-apa, secara pribadi sebagai warga Lombok juga trauma saat itu.
“Uang segepok di bawanya, Mas! Ayo beli apa saja yang kalian inginkan! siapa yg bersedia ke luar dari Pemenang ke Mataram!,” ceritanya.
“Siapa itu?,” tanyaku penasaran
“Ada! Orang kaya lah! Tapi saat itu semua jadi tidak ada artinya, Mas!,” tandasnya
“Kenapa?,” tanyaku kian menyelidik.
“Semua takut! Jangankan ke Mataram. Untuk makan – minum saja Ndak kepikiran! Gempa itu terjadi berhari-hari, setiap waktu,. Mas! Ngeri!”
ungkapnya begidik.
” Masuk WC aja takut sekali, Mas!,” katanya lagi.


Nah, kalau cerita ini aku masih bisa rasakan juga pikirku.
“Saya lihat beberapa rumah sudah tampak berdiri itu?,” kataku.
Pertanyaan itu seperti kurang penting untuk ditanggapi.
“Keren itu rumah! Berapa kira-kira biaya yg dibutuhkan?,” tanyaku.
“Mahal, Mas! 15 jutaan lah,”
jelasnya.
Rumah berbahan kayu dengan atap spandek, masuk akal.
“Kita makan siang dulu, Mas!’
ajaknya.
“Aku tidak makan nasi!”
jawabku.


Ada hidangan irisan tempe ukuran dadu, telor dadar, kerupuk, dan sayur dari buah kelapa yg entah apa namanya di masak kare.
Apa yang bisa diapresiasi dari kondisi seperti ini?
Anda wartawan? Dinas sosial? Voulenteer lingkungan?
“Kopi lagi, Mas!,” kata dia
“Imlek …Ya?,” kataku
“E…saya lupa hari Mas!,” ujarnya.


Aku tersenyum. Ada hal paling sederhana dari kesadaran politik itu. Apa itu? Orang seringkali melupakan yang adi kodrati dari kemahlukannya sebagai khalifah di muka bumi. Hujan pun turun dengan lebatnya. Gong Xi Ga CAI, ujar hatiku.
Di Gedung aula Bulu Tangkis kulihat beberapa anak muda berteduh sambil bermain bulu tangkis dengan alat seadanya dari sobekan kardus mi instant. Beberapa diantaranya duduk menonton
“Apa ini?,” tanya dia.
“Namamu sendiri!,” jawabku sambil menyodorkan kartu nama HBK.
“O, calon anggota DPR RI, ya?,”
aku tersenyum.(rey/bag-3)

Tags: Gowes HBK, HBK, News, Wing Sentot Irawan

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 shares