Pentas Wayang HBK, Menjaga Tradisi Mengalirkan Nostalgia

Pentas Wayang Kulit ini sekaligus menggali budaya leluhur yang telah diwariskan. Kearifan lokal yang diwariskan para orang tua tak boleh punah. Generasi kini harus ikut menjaga keberadaan Wayang Sasak.

Lombok Utara,GARISDEPAB-Romantisme akan wayang kulit oleh masyarakat Pulau Lombok tak pudar. Meski zaman kian maju, teknologi makin canggih, dan kehidupan makin modern, wayang kulit tetap memikat.


Dahulu, disaat zaman masih kuno dan kehidupan begitu tradisional, wayang kulit memang menjadi magnet. Tiap pentas digelar, penonton berbondong-bondong memenuhi lapangan. Ini menjadi bukti strategi dakwah para wali masa lalu tepat yaitu menjadikan wayang kulit “media” pengundang massa.


Adalah H Bambang Kristiono, SE (HBK) Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra berupaya membangkitkan nostalgia akan wayang kulit. Ada beberapa lokasi yang sejatinya menjadi sasaran pementasan di Pulau Lombok. Tak tanggung-tanggung, legenda hidup dalang dari Bumigora Lalu Nasib AR yang dipercaya mengemban misi ini.


Pentas pertama digelar di Lapangan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Hujan selepas Maghrib tak menyurutkan langkah mereka ke lapangan. Hingga pukul 21.00 Wita, wayang belum dimulai. Itu tak membuat mereka bubar. Setengah jam kemudian pentas dimulai. Ratusan orang langsung mendekati panggung. Rumput yang basah mereka abaikan. Tua-muda, pria-wanita langsung duduk santai.
“Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh. Sebelum wayang pemilu damai dimulai akan ada penyampaian dari Bapak H Bambang Kristiono SE, selaku penyelenggara,” kata Lalu Nasib.


HBK berkisah pentas ini sebagai sarana silaturahmi warga di KLU. Keinginanya Wayang kulit bisa menjadi media trauma healing. Yang menarik, Caleg DPR RI dari Partai Gerindra Nomor Urut 1 Dapil Pulau Lombok ini bercerita tak sendiri, ada Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) TGH Hasanain Juwaini. Tuan guru yang dikenal akrab bergerak dalam kebersihan dan menjaga kebudayaan Suku Sasak.

Dikatakan, pentas Wayang HBK ini sekaligus menggali budaya leluhur yang telah diwariskan. Kearifan lokal yang diwariskan para orang tua tak boleh punah. Generasi kini harus ikut menjaga keberadaan Wayang Sasak.

Pernyataan ini diamini Ketua Pepadi NTB TGH Hasanain Juwaini, Wayang Sasak adalah sarana menyampaikan dakwah. Di seluruh NTB, pentas wayang akan dikembalikan ke khittah sebagai sarana dakwah. Hasanain mengaku akan menginisiasi sekolah pedalangan di desa-desa. Dengan begitu Wayang Sasak akan terpelihara.

Jalannya pentas cukup seru. Tawa selalu bergemuruh setiap lakon dimunculkan oleh Sang Dalang Lalu Nasib AR. Manakala mengulas tentang pemilu damai, Lalu Nasib begitu apik menggambarkan. Antar lakon mengisahkan, apapun warna baju, kesejatian diri sebagai bangsa Indonesia adalah pada persatuan. Tak perlu ada saling benci, meski berbeda pilihan. Sebagaimana tertuang dalam makna Bhinneka Tunggal Ika. Meski berbeda, semua tetap satu.

Tak hanya soal pemilu damai, lakon lain ditampilkan legenda dalang ini, manakala mengulas kondisi sosial masyarakat. Kisah berbau kritik ini menceritakan bagaimana masyarakat Hindu yang menjadi pedagang miras tradisional tuak, memiliki pelanggan umat islam. 

Menariknya, Lalu Nasib tak lupa mengulas kondisi warga Lombok Utara pascagempa. Rumah warga hancur oleh guncangan gempa. Pemerintah pusat telah menyiapkan bantuan Rp 50 juta untuk tiap rumah rusak. Sayang beribu sayang, lamanya proses membuat pembangunan rumah berbelit.

Kian malam kisah yang disajikan Lalu Nasib semakin mengocok perut. Dinginnya malam tak lagi dipedulikan warga. Mereka bertepuk tangan, tertawa, dan bersorak. Jumlah penonton pun kian banyak. Ratusan pasang mata fokus pada panggung. Gelap sekeliling panggung mereka abaikan.

“Ceket Mamiq Nasib bercerite (pintar Mamiq Nasib bercerita). Kisah wayang ini bermakna, kita yang nonton tak bosan,” kata Nursaid.(lia)

Tags: HBK, Lalu Nasib, Wayang Sasak

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

198 shares